Monday, February 25, 2013

kepada lelaki yang mencintaiku dalam jarak..

Hai pemancing rindu, apa kabar?
Ketika surat ini tiba, aku masih menjadi satu-satunya pelayar yang singgah di hatimu bukan? Semoga.

Entah sudah berapa banyak pesan yang kutitipkan pada semesta
Apakah semuanya tersampaikan padamu?
Ah tapi itu tak penting. Pesan-pesanmu lah yang melekat di pikiranku.

Sore itu langit kelabu dan angin bertiup kencang, ingatkah kau? Aku bergegas pulang sebelum dilahap badai. Saat itu kau mengatakan hujan tengah melanda kotamu dan kau pun berpesan, "Aku titipkan pesan pada hujan yang mungkin sebentar lagi menyapa kotamu". Ketika aku hendak berlari menengadah ke langit, menunggu pesanmu jatuh menghempasku, "Tapi aku tidak mau kamu sakit, jadi jangan hujan-hujan ya", lanjutmu. Maka kuurungkan niatku.

"Semoga hujan cepat berhenti", harapku.
Sapaanmu adalah sarapan pagi favoritku. "Selamat pagi sayang" atau "Bangun woy sekolah sekolah" selalu disambut rutin oleh panca inderaku. Candu, tapi itulah salah satu penyuplai semangatku. "Itu baru suaranya, bagaimana menatap wajah dan melihat senyumnya? Ah, semakin tidak sabar untuk bertemu", batinku dalam hati.

Kita mungkin akan terus terperangkap dalam rindu
Sampai kuncian mata kita membebaskannya
Selalu terdapat doa yang mengiringi setiap rindu yang membuncah dalam jarak yang membentang
Kita tahu bahwa "kapan" tidak akan pernah terjawab sampai waktu turun tangan

Kata apalagi yang bisa aku ucapkan selain semoga, nanti, mungkin, bisakah?
Kalau saja Tuhan memberiku izin untuk mengintip kitab takdir-Nya, mungkin semua kata "mungkin" itu bukan lagi mungkin, tetapi berubah menjadi akan.
Kepada calon ayah dari malaikat-malaikat kecil dari rahimku, jika memang namamu lah yang tercantum dalam Lauhul Mahfudz-Nya, aku berserah diri sepenuhnya, menanti ridho-Nya melapangkan jalan kita bertemu. Maka, tugasku sekarang adalah memperbaiki diri agar aku lebih siap ketika bertemu denganmu nanti. Dan aku pun percaya sekarang pun kau sedang mempersiapkan dirimu menjemput tulang rusukmu ini.

Namun apabila bukan, bila suatu saat nanti Tuhan berkehendak untuk menghentikan rasa ini, aku ingin kau tetap mengingat bahwa kau pernah mengenal, memiliki, dan menyayangi seseorang dalam doa.

1 motivation:

Sartika Saras said...

keep setrong yawn :3

Post a Comment

 
;