Wednesday, April 11, 2012

Harapan? - Part 2

Aku adalah jembatan di antara ketidakpastian dan kenyataan.

Beberapa orang percaya bahwa aku selalu mendatangkan kenyataan yang berakhir memuaskan. Beberapa lainnya kadang percaya, kadang tidak. Sisanya tidak mempercayaiku sama sekali.

Bukan aku yang membuat ketidakpastian itu menjadi hal yang "pasti". Bukan pula aku yang menjadikan ketidakpastian sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan. Mengapa setiap orang memiliki pandangan yang berbeda terhadapku? Karena mereka mengartikanku dengan cara yang berbeda pula.

Aku, harapan.
Anggaplah aku adalah sebuah lilin kecil dalam mangkuk kaca. Saat ini kamu memegangku di dalam kegelapan malam. Dan aku merupakan satu-satunya hal yang dapat kamu gunakan untuk tetap menerangimu hingga matahari terbit. Kamu akan berharap agar aku tidak padam bukan? Tentu saja kamu akan mengusahakanku, yaitu harapanmu satu-satunya agar tetap menyala. Bila angin kencang menerpa atau hujan turun, kamu akan menutupi mangkuk kaca agar tidak mengenai api lilinku. Begitu seterusnya setiap rintangan kamu hadapi sampai ada pencahayaan lain yang lebih terang daripada aku. Itulah tujuanmu. Sementara apabila kamu tidak melindungiku dari rintangan-rintangan tadi, apiku bisa saja mati.

Kadang ada saja orang yang berharap pada hal lain, padahal sebelumnya dia sudah berharap. Keraguan lah yang menyebabkannya bingung. Dan malah membimbingmu mendekat pada ketidakpastian. Maka yang harus kamu lakukan adalah mengikuti pikiran dan hati nuranimu. Baru mencoba lah.

Kesuksesan dimulai dari mimpi. Dan harapan juga merupakan mimpi, angan-angan, impian. Pepatah mengatakan "Kejarlah mimpimu setinggi-tingginya". Maka "Perjuangkan harapanmu setinggi-tingginya hingga mencapai tujuanmu".

Namun ketika suatu keadaan mengharuskanmu untuk berhenti berharap, jangan putus asa. Saat itu mulai lah melihat kenyataan. Mungkin di suatu waktu lainnya kamu akan menemukan harapan baru , mungkin ditawarkan oleh orang lain atau termotivasi untuk memulai harapan baru lagi. Dan apabila kamu mulai memperjuangkan harapan itu lagi, jangan lupa untuk memperbaikinya dari apa yang sudah kamu pelajari dari kegagalan sebelumnya dan kenyataan yang terjadi.

1 motivation:

Arief Syah said...

Mantap.
Ketawa sendiri pas baca bagian lilin dalam mangkuk kaca. Jadi inget babi ngepet. Dilindungi apinya biar gak padam. :D *bcanda nyik

Post a Comment

 
;